Eksistensi Etnis Tionghoa dalam Keberagaman Etnis di Kota Pontianak

11 Agu

EKSISTENSI ETNIS TIONGHOA DALAM KEBERAGAMAN ETNIS DI KOTA PONTIANAK

 

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas mata kuliah

Pendidikan Multikultural

yang dibina oleh Bapak Drs. Ngatiyo, S.Pd.

OLEH :

Rausan Fikri Futurity El Fitri

NIM. F37010027

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN PENDIDIKAN DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah makalah mengenai Eksistensi Etnis Tionghoa Dalam Keberagaman Etnis Di Kota Pontianak ini dapat diselesaikan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Ngatiyo, S.Pd sebagai dosen Mata Kuliah Pendidikan Multikultural, yang telah memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini.

Dalam makalah ini saya memaparkan beberapa informasi mengenai perkembangan etnis Tionghoa di Kota Pontianak yang sumbernya saya ambil dari beberapa situs di internet yang cukup terpercaya, beserta berdasarkan hasil pengamatan saya sebagai bagian dari masyarakat Kota Pontianak. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya. Saya menyadari begitu banyak kekurangan pada makalah yang saya susun ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan untuk perbaikan di waktu yang akan datang.

 

Pontianak, 14 Juni 2011

 

 

Penyusun

 

DAFTAR ISI

        halaman

Kata Pengantar …………………………………………………………….     ii

Daftar Isi …………………………………………………………………..     iii

Bab I

Latar Belakang ……………………………………………………………..    1

Tujuan Pembahasan ……………………………………………………….  2

Bab II

  1. Istilah Etnik dan Etnis …………………………………………….    3
  2. Suku Bangsa di Kota Pontianak …………………………………..    5
  3. Masuknya Etnis Tionghoa ke Indonesia ……………………………    6
  4. Pengaruh Keberadaan Etnis Tionghoa di Kota pontianak…………   8
  5. Faktor yang mempengaruhi perkembangan Etnis Tionghoa di Kota

Pontianak …………………………………………………………..  10

  1. Perkembangan Etnis Tionghoa di Kota Pontianak …………………  11

Bab III

Kesimpulan …………………………………………………………………  15

Penutup ……………………………………………………………………..  16

Daftar Pustaka ……………………………………………………………… 17

BAB I

LATAR BELAKANG

 

            Keberagaman Etnis yang ada di Kota Pontianak membuat masyarakatnya menjadi amat perlu untuk menanamkan sikap toleransi antar etnis karena masing-masing memiliki budaya dan latar belakang yang berbeda, sehingga sebagai masyarakat yang baik kita perlu untuk menghilangkan atau setidaknya memperkecil gesekan-gesekan yang mungkin timbul. Salah satunya dengan membuka diri dan mengamati, sehingga kita dapat memahami dan tidak bersikap tertutup dengan apa yang terjadi di sekitar kita sehingga dapat membuat kita menjadi lebih bijak dalam hidup bersosial.

Masyarakat Etnis Tionghoa adalah salah satu bagian dari keragaman etnis yang ada di Kota Pontianak, yang pada saat ini telah berkembang dengan cukup pesat dari beberapa aspek yang langsung dapat dilihat oleh masyarakat. Sehingga pada makalah ini akan dibahas mengenai eksistensi etnis Tionghoa dalam keberagaman etnis di Kota Pontianak.

 

 

 

TUJUAN PEMBAHASAN

 

Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah :

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan istilah etnis,
  2. Untuk mengetahui pengaruh keberadaan masyarakat beretnis Tionghoa di Kota Pontianak terhadap masyarakat luas atau non-Tionghoa di Kota Pontianak,
  3. Untuk mengetahui salah satu faktor pendukung kemajuan etnis Tionghoa
  4. Untuk mengetahui perkembangan etnis tionghoa di Kota Pontianak dengan masyarakat yang heterogen.

BAB II

  1. A.    Istilah Etnik dan Etnis

Pada awalnya istilah etnik hanya digunakan untuk suku-suku tertentu yang dianggap bukan asli Indonesia, namun telah lama bermukim dan berbaur dalam masyarakat, serta tetap mempertahankan identitas mereka melalui cara-cara khas mereka yang dikerjakan, dan atau karena secara fisik mereka benar-benar khas. Misalnya etnik Cina  (Tionghoa), etnik Arab, dan etnik Tamil-India. Perkembangan belakangan, istilah etnik juga dipakai sebagai sinonim dari kata suku pada suku-suku yang dianggap asli Indonesia. Misalnya etnik Bugis, etnik Minang, etnik Dairi-Pakpak, etnik Dani, etnik Sasak, dan ratusan etnik lainnya. Malahan akhir-akhir ini istilah suku mulai ditinggalkan karena berasosiasi dengan keprimitifan (suku dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai ‘tribe’), sedangkan istilah etnik dirasa lebih netral. Istilah etnik sendiri merujuk pada pengertian kelompok orang-orang, sementara etnis merujuk pada orang-orang dalam kelompok.

Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi.

Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang : Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembangbiak. Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri. Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.

Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah geografis asal.

Sebuah kelompok etnik pertama kali diidentifikasi melalui hubungan darah. Apakah seseorang tergabung dalam suatu kelompok etnik tertentu ataukah tidak tergantung apakah orang itu memiliki hubungan darah dengan kelompok etnik itu atau tidak. Meskipun seseorang mengadopsi semua nilai-nilai dan tradisi suatu etnik tertentu tetapi jika ia tidak memiliki hubungan darah dengan anggota kelompok etnik itu, maka ia tidak bisa digolongkan anggota kelompok etnik tersebut. Seorang batak akan tetap menjadi anggota etnik batak meskipun dalam kesehariannya sangat ‘jawa’. Orang Jawa memiliki perbendaharaan kata untuk hal ini, yakni ‘durung jawa’ (belum menjadi orang jawa yang semestinya) untuk orang-orang yang tidak menerapkan nilai-nilai jawa dalam keseharian mereka. Dan menganggap orang dari etnik lain yang menerapkan nilai-nilai jawa sebagai ‘njawani’ (berlaku seperti orang jawa) (Suseno, 2001). Meskipun demikian orang itu tetap tidak dianggap sebagai orang Jawa.

Pada saat anggota kelompok etnik melakukan migrasi, sering terjadi keadaan dimana mereka tercerabut dari akar budaya etniknya karena mengadopsi nilai-nilai baru. Demikian juga dengan bahasa, banyak anak-anak dari anggota kelompok etnik tertentu yang merantau tidak bisa lagi berbahasa etniknya. Akan tetapi mereka tetap menganggap diri sebagai anggota etnik yang sama dengan orangtuanya dan juga tetap diakui oleh kelompok etnikya. Jadi, keanggotaan seseorang pada suatu etnik terjadi begitu saja apa adanya, dan tidak bisa dirubah. Tidak bisa seorang etnis Sunda meminta dirubah menjadi etnis Bugis, atau sebaliknya. Meskipun orang bisa saja memilih untuk mengadopsi nilai-nilai, entah dari etniknya sendiri, dari etnik lain, ataupun dari gabungan keduanya.

B.     Suku Bangsa di Kota Pontianak

Sebagai kota yang terbuka dengan kota-kota lain serta merupakan pusat kegiatan pemerintahan, swasta, dan sosial budaya sehingga menjadikan kota ini tempat pendatang dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya sehingga lebih heterogen. Hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia terwakili menjadi warga masyarakat kota. Suku-suku bangsa yang ada di Kota Pontianak seperti suku bangsa Dayak, suku bangsa Batak, suku bangsa Padang, suku bangsa Jawa, suku bangsa Bugis, suku bangsa Melayu, suku bangsa Tionghoa, dan lain-lain.

Tabel komposisi penduduk Kota Pontianak

No.

Suku

Persentase (%)

1.

Keturunan Cina

31,24

2.

Melayu

26,05

3.

Bugis

13,12

4.

Jawa

11,67

5.

Madura

6,35

6.

Lain-lain

8,57

TOTAL

100

Dari tabel yang dikutip dari website resmi Kota Pontianak ini menunjukkan bahwa warga keturunan cina (Tionghoa) sudah berkembang pesat di Kota Pontianak yang dikenal dengan nama Khun Tien (坤甸) oleh etnis Tionghoa di Pontianak.

  1. C.    Masuknya Etnis Tionghoa ke Indonesia

Data mengenai kronologis masuknya orang-orang Tionghoa di Kota Pontianak belum saya temukan. Jauh sebelum itu, orang-orang keturunan Cina tersebut telah lama berbaur dengan masyarakat di luar Kota Pontianak. sehingga disini hanya akan dibahas mengenai masuknya ke Indonesia.

Dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, para imigran Tiongkok pun mulai berdatangan, terutama untuk kepentingan perdagangan. Pada prasasti-prasasti dari Jawa orang Cina disebut-sebut sebagai warga asing yang menetap di samping nama-nama sukubangsa dari Nusantara, daratan Asia Tenggara dan anak benua India. Dalam suatu prasasti perunggu bertahun 860 dari Jawa Timur disebut suatu istilah, Juru Cina, yang berkait dengan jabatan pengurus orang-orang Tionghoa yang tinggal di sana. Beberapa motif relief di Candi Sewu diduga juga mendapat pengaruh dari motif-motif kain sutera Tiongkok. Catatan Ma Huan, ketika turut serta dalam ekspedisi Cheng Ho, menyebut secara jelas bahwa pedagang Cina muslim menghuni ibukota dan kota-kota bandar Majapahit (abad ke-15) dan membentuk satu dari tiga komponen penduduk kerajaan itu. Ekspedisi Cheng Ho juga meninggalkan jejak di Semarang, ketika orang keduanya, Wang Jinghong, sakit dan memaksa rombongan melepas sauh di Simongan (sekarang bagian dari Kota Semarang). Wang kemudian menetap karena tidak mampu mengikuti ekspedisi selanjutnya. Ia dan pengikutnya menjadi salah satu cikal-bakal warga Tionghoa Semarang. Wang mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut “Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong”), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu. Di komplek ini Wang juga dikuburkan dan dijuluki “Mbah Jurumudi Dampo Awang”.

Sejumlah sejarawan juga menunjukkan bahwa Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, memiliki darah Tiongkok selain keturunan Majapahit. Beberapa wali penyebar agama Islam di Jawa juga memiliki darah Tiongkok, meskipun mereka memeluk Islam dan tidak lagi secara aktif mempraktekkan kultur Tionghoa. Kitab Sunda Tina Layang Parahyang menyebutkan kedatangan rombongan Tionghoa ke muara Ci Sadane (sekarang Teluknaga) pada tahun 1407, di masa daerah itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Pemimpinnya adalah Halung dan mereka terdampar sebelum mencapai tujuan di Kalapa.

  1. D.    Pengaruh Kebudayaan Etnis Tionghoa di Kota Pontianak

Masyarakat Kota Pontianak yang beretnis Tionghoa juga memiliki peran yang cukup besar dalam perekonomian di Kota Pontianak, karena sebagian besar pedagang atau pemilik toko-toko yang ada merupakan warga keturunan tionghoa, seperti yang dilansir oleh Harian Kompas, bahwa aktivitas pertokoan di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (3/2/2011) di dua kawasan pecinan, yakni Jalan Gajah Mada dan Tanjungpura, yang merupakan urat nadi perekonomian di Kota Pontianak, berhenti karena sebagian besar pemilik toko warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2562. Berdasarkan pantauan, di dua kawasan pecinan itu, tidak ada satu pun toko milik warga Tionghoa yang buka, kalaupun ada yang buka, pemiliknya di luar warga Tionghoa, sehingga jalan di dua jalur itu sepi dan lengang.

Ayau, salah seorang pedagang sembako di Pasar Famboyan, Pontianak, mengatakan, dirinya baru akan membuka toko sembakonya empat hari kemudian atau Senin mendatang (7/2/2011). Menurut dia, petuah atau pesan orangtuanya meskipun hidup susah apalagi sudah senang, aktivitas sehari-hari seperti berdagang harus ditinggalkan untuk melakukan silaturahim ke rumah sanak famili. “Apalagi perayaan Imlek hanya setahun sekali sehingga kami manfaatkan untuk melakukan silaturahim ke rumah keluarga dan tetangga terdekat,” kata Ayau, Kamis (3/2/2011). Tradisi di keluarganya setelah melaksanakan sembahyang di kelenteng, ia dan keluarganya berkumpul untuk melakukan silaturahim atau acara bermaaf-maafan, yaitu anggota keluarga yang lebih muda bersujud pada orang tua. Ia dan keluarga melanjutkan tradisi mengantar jeruk Bali kepada orang yang lebih tua sebagai tanda hormat. “Tradisi mengantar jeruk Bali rutin kami lakukan setiap tahun,” kata Ayau.

Penulis buku Aneka Budaya Tionghoa Kalbar, Lie Sau Fat atau XF Asali, menyatakan, tradisi menutup pintu dan jendela rapat-rapat menjelang pergantian Tahun Baru Imlek menurut cerita untuk menjaga keselamatan keluarga dari Nian Show (binatang) buas yang hendak memangsa siapa saja ketika dijumpai. “Karena cerita itulah warga Tionghoa mempercayai agar menutup pintu rapat-rapat dan menggantungkan kain warna merah di dinding rumah, serta menempeli bagian depan rumah dengan kertas merah yang bertuliskan kata-kata arif dan bijak. Kami percaya setelah itu dilakukan, binatang itu tidak berani datang,” kata Asali.

Karena kepercayaan itulah, setiap rumah warga Tionghoa yang merayakan pergantian Tahun Baru Imlek pada umumnya menutup pintu depan rumah mereka. Hal ini tentu berpengaruh ke warga masyarakat Kota Pontianak yang bukan keturunan Tionghoa yang harus memenuhi kebutuhannya untuk membeli barang di Toko-toko tersebut. Biasanya masyarakat sudah mengantisipasi hal ini dengan berbelanja sebelum perayaan hari besar masyarakat Tionghoa tersebut, karena dapat diperkirakan bahwa mereka tidak akan membuka tokonya untuk beberapa waktu.

Selain itu, pada perayaan Imlek sebagai salah satu hari besar warga Tionghoa biasa diadakan perayaan pesta kembang api, atraksi barongsai dan naga yang juga banyak dinikmati oleh seluruh masyarakat yang beretnis selain etnis Tionghoa, hal tersebut juga menjadi hiburan dan memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Namun, hal yang kurang menyenangkan juga biasa terjadi pada saat perayaan hari besar dengan pawai atau atraksi naga ataupun barongsai di jalan umum yang membuat kemacetan lalu lintas.

  1. E.     Faktor yang mempengaruhi perkembangan Etnis Tionghoa di Kota Pontianak

Faktor yang mempengaruhi perkembangan etnis tionghoa secara umum yang akan dibahas ialah keistimewaan perilaku ekonomi etnis Cina yang terletak pada kuatnya sistem jaringan kerja. Jaringan kerja etnis Cina perantauan sejak kegiatan ekonomi tahun 1990-an hingga kini mendominasi kegiatan ekonomi wilayah Asia, termasuk Indonesia. Menguatnya jaringan-jaringan kerja lintas negara ini mendominasi pula cara atau perilaku etnis Cina di Indonesia dalam menyikapi globalisasi. Walaupun demikian sikap kompetitif antara mereka tetap terpelihara secara sehat. Hal ini semakin memperkuat kinerja bisnis di kalangan mereka. Bahkan saat terjadi krisis ataupun munculnya tantangan besar, mereka akan saling bekerjasama. Oleh sebab itu bisnis keluarga menjadi salah satu ciri jaringan kerja yang mereka bentuk. Perilaku hubungan jaringan kerja antara etnis Cina terbentuk karena pengalaman yang mereka lalui. Sesama migran etnis Cina dimanapun berada saling menjaga dan membantu pendatang-pendatang baru di bumi nusantara yang mereka tempati sebagai negara harapan. Manfaat dari adanya hubungan jaringan kerja yaitu:

  • memaksimalkan “contact points” untuk (informasi) pekerjaan
  • menyebarluaskan berita termasuk tukar menukar berita, dan
  • memperkuat dukungan psikologis antar anggota.
  1. F.     Perkembangan Etnis Tionghoa di Kota Pontianak

Setelah jatuhnya pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yang sangat otoriter dan berlangsungnya reformasi serta berkembangnya demokrasi, posisi etnis Tionghoa di Indonesia semakin lama semakin baik. Nyaris seluruh undang-undang dan peraturan yang rasis dan diskriminatif peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan pemerintahan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto telah berhasil dilikuidasi. Dimulai dengan dicabutnya seluruh larangan-larangan yang memojokkan etnis Tionghoa termasuk larangan melakukan ritual agama dan adat istiadat dan budaya Tionghoa secara terbuka serta larangan bahasa dan aksara Tionghoa oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Kemudian disusul keluarnya Keputusan Presiden Megawati yang menyatakan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional dan yang terakhir agama Khonghucu dikembalikan menjadi agama resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Walaupun undang-undang dan peraturan-peraturan yang rasis dan diskriminatif hampir seluruhnya telah dihapuskan bukan berarti masalah-masalah yang dihadapi etnis Tionghoa di Indonesia telah sepenuhnya selesai. Selama masih terdapat pengangguran yang tinggi dan jurang pemisah yang dalam antara yang kaya dan berkecukupan dengan yang miskin, dan masih minim dan mahalnya sarana pendidikan dan kesehatan, maka situasi masih tetap saja rawan bagi orang-orang Tionghoa. Demikian juga selama masih suburnya prasangka dan stereotype di kalangan non Tionghoa yang menyatakan bahwa orang “Cina” hanya parasit dan binatang ekonomi yang rakus dan serakah dan sebaliknya pandangan di kalangan masyarakat Tionghoa yang menyatakan “Huana” malas dan tidak bisa dipercaya, maka masalah hubungan etnis Tionghoa dengan non Tionghoa masih tetap rentan atau fragile.

Dengan sedikit provokasi massa mudah tersulut amarahnya dan sudah tentu etnis Tionghoa yang akan menjadi sasaran amuk masa. Terbukti dengan apa yang terjadi pada tanggal 6 dan 7 Desember 2007 di Pontianak, Kalimantan Barat, suatu daerah di Indonesia yang selama ini diyakini relatif lebih aman bagi etnis Tionghoa. Ketika terjadi aksi anarkis 13-14 Mei 1998, banyak dari kalangan etnis Tionghoa yang mengungsi ke Kalbar karena merasa lebih aman di sana. Namun kejadian beberapa waktu yang lalu tersebut membuktikan bahwa selama masih adanya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin dan kurangnya komunikasi antara etnis Tionghoa dan masyarakat sekelilingnya, tidak ada daerah yang kondusif bagi etnis Tionghoa. Dalam sekejap puluhan rumah, sebuah klenteng (vihara) dan beberapa mobil dan sepeda motor berhasil dirusak massa . Tampaknya masalah sepele, hanya karena senggolan mobil, maka terjadi perkelahian yang kemudian diprovokasi menjadi tindakan anarkis terhadap etnis Tionghoa. Namun di balik itu sebenarnya telah ada sentimen berupa bibit-bibit ketidaksenangan yang ada di kalangan non Tionghoa yang merasa adanya jurang pemisah tersebut. Sentimen inilah yang bagaikan bensin yang tumpah ke permukaan tanah dan insiden senggolan hanya jadi alat pemicu yang dengan mudah digunakan para provokator untuk menyulut bensin tersebut agar terjadi aksi-aksi anarkis anti Tionghoa.

Saat ini warga tionghoa telah berbaur dengan seluruh masyarakat di Kota Pontianak yang terdiri dari berbagai etnik dan mengalami perkembangan yang cukup pesat, sudah sangat banyak pula dari mereka yang menikah dengan etnis non-Tionghoa. Di Kota Pontianak terdapat beberapa organisasi atau perkumpulan dalam masyarakat Tionghoa seperti yayasan kematian, yayasan pemadam kebakaran, yayasan kesehatan, perkumpulan olahraga, perkumpulan seni budaya, perkumpulan keagamaan dan perkumpulan pria/wanita. Organisasi atau perkumpulan tersebut juga dapat dikategorikan sebagai organisasi lokal menurut Esman dan Uphoff seperti Asosiasi Pembangunan Lokal, Ko-operatif ataupun Asosiasi Kepentingan (baik Asosiasi Kepentingan berdasarkan Fungsi maupun Asosiasi Kepentingan berdasarkan Kategori) dengan melihat keanggotaannya, penyerapan sumber daya yang dimiliki ataupun kesamaan minat dan perbaikan suatu fungsi tertentu. Selain memberikan manfaat kepada anggotanya yang lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan kultural berupa ketenangan batin daripada pemenuhan fisik seperti pangan, sandang ataupun papan, aktifrtas dan keberadaan organisasi atau perkumpulan masyarakat Tionghoa tersebut juga memberikan manfaat berupa pelayanan kepada masyarakat luas di Kota Pontianak dan secara tidak langsung membantu program pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak. Contohnya adalah yayasan pemadam kebakaran yang insiatif dan pendiriannya diwujudkan oleh masyarakat Tionghoa. Yayasan pemadam kebakaran ini telah ada pada tahun 1949 sejak didirikannya BPAS oleh pemuka dan tokoh masyarakat Tionghoa di Siantan dan kemudian memancing didirikannya yayasan serupa di tempat lain oleh masyarakat Tionghoa yang ada di Kota Pontianak seperti Yayasan Pemadam Kebakaran (YPK) Panca Bhakti, YPK Budi Pekerti, YPK Khatulistiwa dan Unit Pemadam Kebakaran Gotong Royong.

Selain organisasi atau perkumpulan, pasar-pasar di Kota Pontianak juga banyak didominasi oleh warga keturunan Tionghoa dan yang paling mencolok ialah di sepanjang Jalan Gajahmada dan Tanjungpura sehingga kawasan ini biasa disebut dengan China Town. Diluar kawasan tersebut juga banyak toko-toko atau usaha-usaha yang dimiliki oleh orang-orang keturunan Tionghoa, baik toko-toko besar maupun kecil dan meliputi toko sembako, rumah makan atau restoran, tempat penginapan, tekstil, percetakan, jasa desain grafis, swalayan, dan masih banyak yang lainnya. Banyak dari mereka yang mempekerjakan warga non-Tionghoa menjadi pekerja atau karyawannya.

BAB III

KESIMPULAN

Istilah etnik sendiri merujuk pada pengertian kelompok orang-orang, sementara etnis merujuk pada orang-orang dalam kelompok.

Perilaku ekonomi yang cenderung proaktif, berbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina (Tionghoa) di kawasan Asia termasuk Indonesia. Etnis Cina mengandalkan integritas suatu hubungan antar etnis Cina di bidang ekonomi dan kekeluargaan. Bentuk kolaborasi perilaku etnis Cina di Indonesia terutama kelas menengah dan atas (yang secara profesi tidak terikat).

Yayasan dan Organisasi-organisasi yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa juga telah banyak terdapat di Kota Pontianak, yang baik secara langsung maupun tidak langsung juga memberikan manfaat bagi masyarakat non-Tionghoa. Eksistensi etnis Tionghoa di Pontianak juga ditunjukkan dari banyaknya usaha-usaha dan toko-toko yang dimiliki oleh warga  keturunan Tionghoa yang juga mempekerjakan warga diluar etnis Tionghoa. Kebudayaan dan perayaan hari besar warga Tionghoa juga menjadi hiburan tersendiri oleh sebagian besar masyarakat Kota Pontianak.

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Keberadaan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang dimana isinya memperjelas bahwa konsep bangsa Indonesia asli yang sesungguhnya  yang tidak berdiri sendiri melainkan berdasarkan atas kesamaan ras, etnik (suku bangsa), bahasa, golongan, maupun agama yang sudah diakui dalam UUD 45 maupun undang-undang kewarganegaraan bahwa jati diri bangsa Indonesia beranjak dari sejarah, rasa senasib sepenanggungan yang sudah ada sejak lama tumbuh dari masyarakat Indonesia yang plural dan heterogenitas.

Saat ini segala manusia dari berbagai etnik telah semakin melebur dalam kehidupan sosial yang satu. Apalagi globalisasi yang begitu deras dan nyaris tak tertahankan bertendensi memunculkan keseragaman budaya, baik dalam pola pikir, sikap, tingkah laku, seni, dan sebagainya. Etnik sebagai identitas tidak berarti harus menunjukkan adanya perbedaan budaya. Mengaku berbeda etnik bukan lantas harus menunjukkan perbedaan dalam perilaku. Namun meski demikian, masyarakat umumnya tetap menganut adanya model-model perilaku dan sifat tertentu yang khas etnik tertentu, dan model tersebut digunakan untuk menjelaskan keberadaan etnik bersangkutan.

Semoga pembahasan mengenai eksistensi masyarakat etnis Tionghoa ini dapat bermanfaat dan memberikan pengaruh positif bagi yang membaca. Tiada kesempurnaan dalam pembahasan ini. Untuk itu tambahan dan masukan amat diperlukan untuk perbaikan yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://beberapa-catatan-mengenai-perkembangan-organisasi-organisasi-tionghoa-di-indonesia.html

http://hanafimohan.blogspot.com/

Perilaku Ekonomi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an – F.R. Wulandari _ Indonesian-Chinese Culture Study Group.htm

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/etnik-dan-etnisitas.html

http://www.pontianakkota.go.id/?q=tentang/suku-bangsa

kompas.com

Wikipedia

http://www.upi.org

 

 

 

silahkan berikan komentar / tanggapan..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Orang yang Terasing

Islam, Ahlussunnah,asing,manhaj,ibnujafar86,terasing,pengembara

3WD's Blog

If we want a different life, don't be afraid to make a different decision.

SMS

Suara Media Sejahtera

Berjuang Pantang Menyerah

Just another WordPress.com weblog

Ma'had Utsman Bin Affan - JAKARTA

Program Bahasa arab & Studi Islam

Cococokie's Jar

What cookie can you find in this jar?

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

mentaridicelahsabit

The soul would have no rainbow, if the eyes had no tears. (an Indian aphorism)

Zona CahayaMata

Berpikir... Berkarya...Menapaki Jejak Kehidupan dalam Wacana....Saya harus tulis isi kepala saya. Kalau tidak, hanya akan memenuhi kepala tanpa jadi apa apa...

Puisi adalah Hidupku

Tulisan Merupakan Gambaran Hati

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: