MUSEUM KALIMANTAN BARAT

11 Agu

KUNJUNGAN KE MUSEUM KALIMANTAN BARAT

Budaya Hindu Budha, Islam, Barat, dan Cina

Latar Belakang

Museum Provinsi Kalimantan Barat dirintis sejak tahun 1974 oleh Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Barat melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Permuseuman Kalimantan Barat. Fungsionalisasinya diresmikan pada tanggal 4 Oktober 1983 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Depdikbud, sejak itu Museum Kalimantan Barat dibuka untuk umum. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 200 tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembar Negara RI Nomor 3952) dan Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 365 Tahun 2001 Museum Provinsi Kalimantan Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan unsur pelaksana operasional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat. Kita dapat melihat sejarah dan kebudayaan pada masa lalu di Wilayah Indonesia dan Kalimantan Barat khususnya dengan melihat barang-barang yang ditemukan pada peninggalan masa lampau, baik asli maupun hanya tiruan atau miniaturnya yang ada di Museum Kalimantan Barat yang memiliki visi       “ Sebagai Pusat Informasi Kebudayaan Daerah Kalimantan Barat”

Untuk itu, Laporan Kunjungan ke Museum Kalimantan Barat ini saya buat untuk menyajikan informasi mengenai keberadaan kebudayaan Hindu Budha, Islam, Cina, dan Eropa yang dapat diungkapkan melalui barang-barang yang terdapat di Museum Kalimantan Barat ini.

 


 

Seputar Museum Kalimantan Barat

Museum Kalimantan Barat terletak di Jalan Jenderal Achmad Yani Pontianak. Memiliki gedung pameran tetap, dengan ruang pameran yang di bagi menjadi 3 ruangan, yaitu  :

  1. Ruang Pengenalan, berisi Koleksi Geologika, Biologika, Arkeologika, Historika, Numismatika dan Heraldika.
  2. Ruang Budaya Kalimantan Barat, mencakup 7 unsur kebudayaan; Religi dan Upacara Keagamaan, Organisasi Kemasyarakatan, Pengetahuan, Bahasa, Kesenian, Mata Pencaharian Hidup, dan Teknologi dan Peralatan.
  3.  Ruang Keramik yang terdiri dari Keramik-keramik Lokal dan Asing.

Selain menampilkan koleksi yang ada di Gedung Pameran Tetap, Museum Provinsi Kalimantan Barat juga menampilkan Koleksi di Plaza Museum yang tediri dari Koleksi Replika dan Miniatur-miniatur. Waktu kunjungan Selasa s/d Minggu 08.00-14.30 WIB, Jumat 08.00-11.00 WIB, Hari Senin dan libur nasional tutup.

 

Barang-barang Peninggalan sebagai Hasil Kebudayaan

A.    HINDU BUDHA

Pada daerah plaza museum terdapat beberapa replika menyangkut kebudayaan Hindu Budha, yaitu Replika Batu Bertulis.

 

 

Gambar

Replika Batu Bertulis

Batu bertulis ini adalah replika dari batu bertulis yang terdapat di Kampung Pahit Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau yang dibuat sekitar Abad IX. Pada bagian depan terdapat tulisan beraksara Pallawa berbahasa Sansekerta yang inyinya berisikan tentang ajaran Agama Budha.

Di bagian dalam gedung terdapat beberapa barang-barang yang menunjukkan kebudayan Hindu Budha, seperti :

Replika Arca Siwa Mahadewa

Dewa Siwa mendapat tepat terutama di Indonesia dan dipuja dalam berbagai fungsi. Dengan demikian Siwa mempunyai bermacam-macam bentuk sesuai dengan fungsi waktu di puja. Siwa merupakan dewa tertinggi. Arcanya digambarkan berdiri, bertangan 4, tangan belakang memegang kebut lalat, tangan depan memegang sebuah kendi bermahkita tinggi yang dihiasi dengan Candra kepala memakai tali hasta (upawita) berbentuk ular, kakinya bergambar kulit dan kepala harimau, matanya bertahta perak, bibir bawahnya bertahta emas.
Arca ini merupakan salah satu contoh terindah dari hasil karya seni Indonesia. Ditemukan di dalam Sungai Wadas, di daerah Tegal Jawa Tengah.

Replika Archa Budha

Arca ini digambarkan berdiri, kaki setinggi paha, kedua tangannya patah dan hilang, meskipun diperkirakan bahwa tangan kanannya bersikap abha yamudra (menolak bahaya). Sedangkan tangan kirinya memegang ujung jubah.

Jubah menutupi bahu kiri, tipis berlipatan, rata dan sejajar. Lipatan jubah yang demikian berasal dari kesenian amarawati pada permulaan tarikh masehi.

Melihat gayanya diperkirakan berasal dari Seni Arca di Ceylon. Sekitar abad ke-8 M. arca yang aslinya terbuat dari perunggu ini ditemukan di Bukit Sikendeng, (Sulawesi Barat). Arca ini dinamakan Budha Dipankara, yakni Dewa pelindung para pelaut.

Replika Arca Prajnya Paramita

Arca yang dibuat dalam sikap duduk dan tangan berada di depan dada dalam sikap Cakra Mudra (jari tangan sedang memutar roda hukum Budha) merupakan dewi kebijaksanaan yang bernama Prajnya Paramita yang berasal dari kerjaan Singosari (1222 – 1292).

Ciri khas arca ini adalah ditangannya terdapat sebuah pustaka yang diletakkan di atas sebuah bunga padma (teratai) memakai mahkota berhias permata. Bagian kepala dilindungi oleh kubah cahaya (prabha) sebagai lambang kebijaksanaan yang bermakna agar cahaya ilmu dan kebijaksanaan akan menyebar ke seluruh dunia dan mengisi hati umat manusia.

B.     ISLAM

Pada daerah plaza museum terdapat beberapa replika menyangkut kebudayaan Islam yang ditunjukkan oleh Miniatur Lancang Kuning yang merupkan miniature berbentuk bidar yang khusus digunakan oleh Sultan Istana Qadariyah Pontianak sebagai alat transportasi.

 

Numismatika

Adalah setiap mata uang atau alat tukar yang sama sebelum dikenalnya mata uang.Hubungan jual beli dilaksanakan dengan sistem barter (tukar menukar barang dengan barang) sejak zaman hindhu budha dan islam baru dikenal mata uang yang terbuat dari emas, perak, tembaga dan hanya terbatas sepuluh wilayah setempat. Masa pemerintahan kolonial dikeluarkan mata uang VOC, hindia Belanda dan NICA.

Inggris mengeluarkan mata uang di Indonesia yang disebut Rupee Jamaa yang dituliskan huruf Jawa dan Arab. Masa penjajahan Jepang mengeluarkan uang kertas yang dicetak dalam tiga bahasa yakni Jepang, Belanda, Indonesia. Setelah dikeluarkan mata uang ORI kemudian dikenal pula mata uang RIS. Pada tahun   1951 muncul dicetak mata uang RI yang dibuat dari kertas dan logam.

Heraldika

Adalah setiap tanda jasa, lambang, dan pangkat resmi (termasuk cap atau stempel). Stempel merupakan tanda administrasi suatu lembaga atau kekuasaan, untuk megesahkan dalam surat menyurat resmi atau dokumen. Tanda pangkat untuk menunjukkan status jabatan bagi pemakainya. Lambang digunakan sebagai symbol suatu kerajaan.

 

 

 

Naskah Ilmu Hisab

Naskah tulis tangan dari kertas merang, bewrisi mengenai ilmu perhitungan atau hisab, huruf arab dengan bahasa melayu-bugis. Pengarang naskah Muhammad Tayyib Ya’kub Al-Bugis Pontianak pada tanggal 10 Rabiul Akhir 1326 H

Suatu  benda berupa naskah kuno yang ditulis tangan maupun dicetak yang menguraikan suatu hal atau peristiwa, merupakan objek penelitian disiplin ilmu Filologika.

Naskah-naskah ini ada yang ditulis di atas daun lontar, kulit kambing dan kertas merang dengan menggunakan tinta warna hitam, tinta emas dan tinta warna merah. Jenis dan bentuk naskah yang ada di Kalimantan Barat seperti :

Surat emas, berupa tulisan tangan di atas kertas merang bertinta hitam dengan menggunakan huruf arab berbahasa melayu, yang berisi tentang pemberian uang santunan tiap bulan dari Syarif Usman bin Almarhum Sultan Syarif Abdurrahman Bin Almarhum Al Habib Al Hasinul Qadri yang bertahta kerajaan di Negeri Pontianak kepada Sy Hamid dan 2 saudaranya serta orang-orangnya selama berada di tanah Jawa sebesar Rp 800,00 yang sebelumnya telah diberikan sebesar Rp 6.478,00

Surat nesehat, berupa tulisan tangan yang ditulis di atas kertas merang bertinta hitam dengan menggunakan huruf arab melayu dan berisi tentang nasehat serta doa peringatan dari perembuhan Mempawah.

Kitab Al Quran yang merupakan kitab suci Umat Islam, ditulis tangan di atas kertas merang dan menggunakan tinta hitam serta mgnggunakan huruf  arab

Hikayat Kamaruzzaman, dicetak di atas kertas merang, menggunakan tinta hitam, huruf arab gundul berbahasa melayu dan bercerita tentang seorang tokoh bernama Kamaruzzaman dan kehidupannya.

Naskah hitungan takwin Arabiyah dan Khamsyiyah ditulis tangan di atas kertas merang menggunakan tinta hitam, huruf arab berbahasa melayu, bercerita tentang perhitungan hari, bulan dan tahun, ramalan 7 bintang, ramalan perjodohan dan mengenai hari binasa.

Naskah Indera Bangsawan, dicetak di atas kertas merang, dan bertuliskan huruf arab berbahasa melayu, bercerita tentang seorang raja yang adil dan murah hati di Negeri Kubat Syahrila bernama Indera Bangsawan dan isterinya serta kehidupannya.

 

 

C.    BARAT

 

Pada bagian depan gedung museum di kanan dan kiri terdapat Meriam yang berasal dari Kapal Perang VOC yang dibuat pada tahun 1708, memiliki ukuran panjang 196 cm, berat 700 kg, terbuat dari besi. Merupakan hibah ahli waris Kerajaan Tayan Kabupaten Sanggau tahun 1983.

 

 

 

 

Gambar di samping adalah gambar Jangkar armada dagang kapal asing abad XVI yang terbuat dari besi. Memiliki panjang 450 cm, lebar 300 cm, dan berat kurang lebih 2500 kg. ditemukan di pesisir Pantai Pemangkat Kabupaten Sambas tahun 1983.

Di bagian dalam gedung terdapat keramik-keramik Eropa. Keramik Eropa, selain meniru keramik Cina baik dalam bentuk, warna, dan motif hias, juga mengembangkan cirri mereka sendiri sehingga, keramik Eropa lebih mudah dibedakan dengan keramik dari negara-negara lain. Keramik Eropa yang ditemukan di Indonesia berasal dari masa abad 17-19 M. Ciri-ciri yang terkenal adalah dari negeri Delfit (Belanda), Meissen (Jerman).

Ciri keramik Eropa antara lain, bahan kaolin berpartikel halus dan bertekstur renggang, warna bahan putih krem, motif flora / fauna, manusia dan pemandangan plagiat menyebar dan menggunakan teknik hias kuas, warna glasir monokrom biru dan polikrom biru putih.

D.    CINA

Sekilas Sejarah Etnik Tionghoa di Kalimantan Barat

Kedatangan Etnis Tionghoa di Kalimantan Barat sekitar abad ke-3 SM – 3 M (masa Dinasti Han) yang diawali dengan pengiiman tim ekspedisi ke selatan.

Dalam perjalanannya diboncengi pula pedagang-pedagang dari negeri cina, ini dibuktikan dengan temuan arkeologi berupa keramik masa dinasti Han (disimpan di museum nasional Jakarta).

Tahun 1293 tim ekspedisi yang dikirim Khubilai Khan ke Pulau Jawa kembali ke negeri Cina yang sebelumnya singgah dan menyiapkan perbekalan di Kalimantan Barat.

Di dalam  gedung terdapat  pula keramik-keramik asing. Penyebaran keramik asing di daerah Kalimantan Barat berawal dari abad ke 10 melalui hubungan maritim dengan Cina. Sebelumnya telah disertai di beberapa bagian di Indonesia melalui abad 13 hingga abad 17, pedagang Cina, Portugis, dan VOC (Belanda), berdagang kesejumlah besar keramik Cina,….. , Vietnam, Thailand, Jepang, dan Persia ke daerah lain, yang ditukar emas, batu, perak, dengan hasil bumi penduduk setempat. Demikian juga pada imigran Cina yang berdatangan ke daerah ini.

Dinasti Ming

Keramik masa Ming akhir umumnya berciri besar halus dan tipis berwarna biru putih, ciri lain :sering adanya pasir yang melekat pada bagian dasar dan pada bagian tengah. Dasar biasanya terdapat gambar (lambang tulisan dan tanda cap). Selain itu penggambaran kiasan seperti motif pemandangan maupun flora biasanya ditempatkan dalam panel. Bentuk umum keramik ini atau yang dikenal dengan keramik masa Huan lie adalah berupa piring, mangkuk, kendi, pot dan sebagainya.

Dinasti Song (Sung)

Keramik masa Song (Sung) antara lain : Ding-ware, Linrueware, Longquanware, yuehware dan sebagainya. Keramik ding ware dikenal sebagai keramik berkualitas tinggi yang umumnya digunakan di kalangan atas. Keramik ini, barciri bahan dasar halus, kuat, dan keras. Glasirnya terutama berwarna putih ada juga berwarna hijau, hitam antara lain coklat tua. Kuasan menggunakan teknik gores, tekan, dicetak. Bibir keramik umumnya tidak berglasir tetapi ditutup dengan warna emas dan perak. Tungku utamanya di Jiancicun Quyangxian di provinsi Itebei Cina. Keramik Linrueware dibuat di Linru provinsi Bhejiang, umumnya berupa seladon, kaca dan berat, berwarna kehijauan dihias dengan teknik gores dan tekan. Keramik ini berupa piring, mangkok, dan jambangan bunga alasnya digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Keramik ini juga disebut keramik Lishui Utara. Keramik Longquan ware dibuat di Liongquan provinsi Beijiang. Berciri bahan dasar putih dengan nuansa kebiruan, halus, dan keras berglasir seladon kebiruan dan kehijauan. Umumnya keramik ini berbentuk piring, pacu, jambangan dan guci. Keramik ini juga disebut keramik desa DI atau Ding ware. Keramik Yuehware berciri glasir hijau hingga kuning kecoklatan, hiasan bawah glasir, berupa tekan cap atau motif pilihan dengan teknik gores. Dasar umum keramik Yuehware diglasir tepi kaki menyempit dan melebar, serta jejak penyangga. Keramik hijau sudah ada sebelum masa Song terus dibuat pada masa berikutnya sehingga kecenderungan menyebut keramik hijau masa Song. Awal sebagai Yuehware atau Yuehtito dan tipe lainnya sebagai keramik hijau atau Greenware.

 

Dinasti Yuan

Keramik masa dinasti yuan banyak menyerupai keramik masa Sung atau Song baik bentuk maupun motif yang digunakan. Cirri-ciri : bahan yang digunakan dari kaolin dan batuan, partikel halus dan bertekstur rapat. Warna bahan kaolin warna putih krem dan putih keabuan, glasir bening warna putih kebiruan, putih kehijauan, putih keabuan, warna biru, coklat kehijauan gelap, coklat kemerahan, hijau teladon penerapan 3 warna dan lain-lain. Motif sulur daun antara lain bunga botan atau setangkai, bunga botan (poeny), tangkai bunga krisan dan lain-lain.

Relief cetak yang antara lain menggambarkan dua ekor naga sedang memperebutkan mutiara berlidah api. Lukisan lidah api bergaya seperti dihembus angin dari satu arah yang diterapkan terutama pada keramik warna biru putih bermutu tidak halus. Pola hias dengan teknik gores, cetak, tempel dan irisan. Ciri lain yaitu pada bagian kaki atau bawah berwarna coklat kemerahan karena oksidasi besi yang terkandung pada bahan dasarnya. Jejak pembakaran terdapat bekas tumpangan pada bagian dasar dalam. Tungku utama pembuatan keramik masa yuan ini di provinsi zhe ziang (che-kiang)

Dinasti Qing

Keramik masa ini umumnya berbahan dasar  porselen dengan kualitas yang baik. Pengambaran maupun komposisi hiasan terlihat dilakukan dengan bebas. Umumnya berupa motif flora, fauna, dan pemandangan alam. Berwarna biru terang, tipis, kadang-kadang pada bagian dasar terlihat adanya pasir-pasir yang melekat seperti keramik. Namun jenis keramik ini lebih halus dan bentuknya cukup halus.

Bagian dasar kadang-kadang juga terdapat hiasan berupa tulisan atau disebut krak. Jenis keramik lainnya diproduksi dizing-dezen sekitar abad 19-20 untuk memenuhi permintaan orang-orang cina di Asia Tenggara. Keramik ini umumnya dihiasi dengan motif tulisan, lambang-lambang kesejahteraan atau keserasian. Biasanya keramik ini digunakan untuk upacara-upacara peringatan.

 

 

Penutup

Dari hasil kunjungan ke Museum Provinsi Kalimantan Barat dapat diketahui mengenai kebudayaan yang terdapat di Kalimantan Barat mengalami pembauran dengan kebudayaan-kebudayaan Hindu Budha, Islam, Barat, dan Eropa, dan hingga sekarang terus mengalami perkembangan.

Seperti yang terlukis timbul pada bagian luar dindin Museum terdapat lukisan yang menggambarkan tentang kehidupan pada masa lampau yang telah dipengaruhi oleh unsur kebudayaan dari luar Indonesia, seperti:

 

Memahat Kaligrafi                                                       Permainan Rebana

 

 

 

 

 

 

 

Makam Islam & Pengobatan Bekam

Perdagangan dengan Orang Cina

#####

silahkan berikan komentar / tanggapan..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Orang yang Terasing

Islam, Ahlussunnah,asing,manhaj,ibnujafar86,terasing,pengembara

3WD's Blog

If we want a different life, don't be afraid to make a different decision.

SMS

Suara Media Sejahtera

Berjuang Pantang Menyerah

Just another WordPress.com weblog

Ma'had Utsman Bin Affan - JAKARTA

Program Bahasa arab & Studi Islam

Cococokie's Jar

What cookie can you find in this jar?

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

mentaridicelahsabit

The soul would have no rainbow, if the eyes had no tears. (an Indian aphorism)

Zona CahayaMata

Berpikir... Berkarya...Menapaki Jejak Kehidupan dalam Wacana....Saya harus tulis isi kepala saya. Kalau tidak, hanya akan memenuhi kepala tanpa jadi apa apa...

Puisi adalah Hidupku

Tulisan Merupakan Gambaran Hati

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: